Bagi sebagian pengguna, smartwatch atau fitness tracker menjadi perangkat penting untuk memantau kesehatan dan aktivitas harian. Namun, tidak semua orang mendapatkan pengalaman yang sama.
Pengguna yang memiliki tato di pergelangan tangan kerap mengeluhkan pembacaan detak jantung yang tidak akurat hingga perangkat yang gagal mendeteksi bahwa jam tangan sedang dipakai.
Lalu, apakah smartwatch dan fitness tracker memang tidak bisa digunakan pada kulit yang bertato? Jawabannya adalah bisa, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten.
Kenapa Tato Bisa Mengganggu Smartwatch?
Dikutip dari laporan situs Engadget, sebagian besar smartwatch modern menggunakan teknologi bernama photoplethysmography (PPG) untuk mengukur detak jantung.
Teknologi ini bekerja dengan memancarkan cahaya hijau dari bagian bawah perangkat ke kulit. Sensor kemudian membaca perubahan aliran darah untuk menghitung detak jantung pengguna.
Masalahnya, tinta tato dapat menghalangi atau menyerap cahaya tersebut sehingga sensor kesulitan memperoleh data yang akurat.
Akibatnya, pengguna bisa mengalami berbagai masalah seperti:
-Detak jantung tidak terbaca
-Hasil pengukuran tidak akurat
-Data olahraga tidak konsisten
-Smartwatch sering terkunci karena mengira tidak sedang dipakai
-Fitur kesehatan tertentu gagal berfungsi
Fenomena ini bukan sekadar keluhan pengguna. Beberapa produsen smartwatch bahkan telah mengakui adanya keterbatasan tersebut.
Garmin, misalnya, menyebut tinta, pola, dan tingkat kepadatan tato dapat menghalangi cahaya sensor detak jantung sehingga menghasilkan data yang hilang atau tidak akurat. Karena itu, perusahaan menyarankan pengguna memakai jam di area kulit yang tidak bertato jika memungkinkan.
Apple juga pernah mengeluarkan penjelasan serupa sejak generasi awal Apple Watch.
Semua Tato Tidak Memberikan Dampak yang Sama
Menariknya, pengaruh tato terhadap smartwatch ternyata tidak selalu sama pada setiap orang.
Sejumlah faktor yang dapat memengaruhi akurasi sensor meliputi:
-Warna tinta
Tinta yang lebih gelap umumnya lebih berpotensi menghalangi cahaya sensor dibanding warna yang lebih terang.
-Kepadatan tato
Semakin pekat dan rapat area tinta, semakin besar kemungkinan sensor mengalami gangguan.
-Kedalaman tinta
Perbedaan teknik pembuatan tato juga dapat memengaruhi cara cahaya menembus kulit.
-Jenis aktivitas
Penelitian yang dipublikasikan pada 2025 menemukan bahwa gangguan akibat tato cenderung lebih besar saat pengguna sedang beristirahat. Saat aktivitas fisik meningkat, perbedaan pembacaan justru bisa berkurang.
Bahkan dalam beberapa kasus, peneliti menemukan tato tidak memengaruhi validitas pengukuran detak jantung sama sekali.